Greatest Adventure

Lama tidak menulis, karena alasan kesibukan yang sebenarnya lebih tepat kalau disebut karena alasan kemalasan, sudah banyak hal yang berubah dari kehidupan saya.Mulai dari pembukaan chapter menikah dengan bahagia, pindah bagian di tempat kerja, sampai pengalaman ke beberapa negara di Asia dan Eropa.

Saya berharap suatu hari nanti saya akan kembali rajin menulis lagi di blog ini. Dan semoga bisa berbagi hal-hal yang jauh lebih bermanfaat bagi orang lain ketimbang hanya curhat masalah yang lalu lalu. Dan Hari ini, belum banyak yang akan saya ceritakan, tapi mungkin cukup untuk menjadi prolog dari mati surinya blog saya selama ini.

————————————————————————————————————————-

Menikah.

Bagi sebagian orang adalah fase kehidupan yang membuat dirinya membatasi diri dari lingkungan atau aktivitas sosial tertentu karena adanya “sesuatu”  yang baru dalam hidupnya. Sesuatu itu tidak selalu  dalam arti negatif, tapi beberapa pasangan yang saya jumpai kadang menganggapnya seperti itu. Beberapa suami merasa dirinya kehilangan waktu untuk bermain game, berolahraga, ngumpul bersama teman atau untuk hobi lainnya. Bagi istri juga hampir serupa, atas dasar kebutuhan untuk mengurus suami, mengurus anak, mengurus rumah tangga, sang istri jadi kehilangan waktu untuk memanjakan dirinya, untuk shopping, mempercantik diri, atau kehilangan waktu untuk berekreasi.

“Tidak ada hal yang berubah setelah pernikahan ini melainkan kami akan hidup lebih bahagia bila bersama.”

Saya sendiri sudah menikah. Dan sangat bersyukur memiliki seorang suami yang sangat autoritatif. Suami saya tidak pernah memaksakan kehendaknya untuk saya harus begini dan begitu. Demikian pula dengan saya. Kami berdua sepakat bahwa tidak ada hal yang berubah setelah pernikahan ini melainkan kami akan hidup lebih bahagia bila bersama. Bersyukur karena dia masih mengijinkan saya untuk bekerja, bergaul bersama teman-teman, berekreasi, bahkan bepergian jauh seperti yang saya suka. Bahkan dalam hal tertentu, dia tidak segan untuk bergabung atau menemani saya.

Travelling misalnya. Dahulu sebelum menikah saya pikir saya akan kehilangan satu hal itu karena seperti banyak ulasan yang saya baca. Ketika menikah “budget” untuk hal yang satu ini akan banyak dipangkas. Karena banyak hal lain yang lebih urgent seperti kebutuhan untuk rumah dan momongan. Selain itu, istri cenderung tidak akan punya waktu untuk travelling, karena seperti yang saya sampaikan di atas, waktu istri akan banyak dihabiskan untuk mengurus rumah tangganya.

Tapi nyatanya, setelah pernikahan ini, yang saya temui justru sebaliknya. Tahun ini, selain melakukan single travelling, ada pula beberapa perjalanan yang saya lakukan bersama suami saya. Dan rasanya sangat jauh lebih menyenangkan dibanding bepergian sendiri. Menyenangkan karena ada teman bersama sepanjang perjalanan, menyenangkan karena saya merasa dilindungi, menyenangkan karena merasa lebih aman dan nyaman karena ada yang mendampingi dan tentunya sangat menyenangkan karena dari perjalanan ini kami menciptakan banyak moment indah berdua yang akan jadi koleksi cerita untuk anak cucu kami nanti.

Awal tahun 2015 ini pada bulan Februari kami buka dengan menyeberang ke Kepulauan Seribu, Pulau Macan lebih tepatnya. Bulan Maret kami berwisata Kuliner ke Solo. Kemudian di tengah tahun kami berkunjung ke kampung halaman saya di Wonosobo untuk berwisata ke Dieng dilanjutkan dengan short getaway ke Phuket, bulan Agustus ke Novus Giri Puncak, dan bulan November lalu kami berdua berjelajah ke Tokyo, Jepang.

InsyaAllah Saya akan ceritakan satu per satu perjalanan saya dan suami saya di beberapa tulisan lain yang akan saya tampilkan kemudian. Namun intinya, dari banyak cerita yang saya lalui dan akan saya ceritakan nanti. Saya dan suami saya percaya, berat atau tidaknya beban dari sebuah pernikahan itu kembali lagi pada sudut pandang kita dan pasangan dalam menilainya. Dan bagi kami, justru dalam pernikahan inilah kami menjalani Petualangan Terhebat (Greatest Adventure) yang belum pernah kami alami dalam hidup ini.