Yang Saya Tau

Yang saya tau, saya berhak mengeluh ketika jalanan macet berjam-jam dan mobil saya tidak bisa bergerak karena banyaknya kendaraan lain yang terparkir bersama saya di ruas ruas jalan tol ibukota.

Yang saya sering lupa, sesungguhnya macet adalah nikmat. Yang hanya Allah berikan kepada mereka yang dikaruniai kesehatan untuk bisa bepergian keluar rumah, yang hanya Allah limpahkan kepada mereka yang dikaruniai rizki untuk membeli kendaraan roda empat.

Yang saya tau, saya berhak mengomel ketika pelayan restoran mengantarkan pesanan saya tidak sesuai dengan yang saya minta. Kadang terlalu asin, kadang kurang pedas, kurang telor mata sapi, kurang matang inilah itulah.

Yang saya sering lupa, banyak orang di luar sana yang bahkan makan hanya dengan nasi putih, atau nasi yang hampir basi tapi mereka tidak pernah mengomel, bahkan meski nasi yang mereka dapat berasal dari tong sampah atau bekas makanan orang , tapi mereka masih bisa menikmatinya dengan perasaan senang.

Yang saya tau, saya berhak malas malasan berangkat ke kantor karena jaraknya yang jauh dan perjalanannya yang tidak singkat, berhak ogah-ogahan mengerjakan tugas kantor karena saya bosan mengerjakan hal yang sama setiap hari, bahkan merasa berhak menolak ketika atasan saya memberi pekerjaan lebih dari yang seharusnya saya mampu kerjakan. Entah dengan alasan capek, pengen pulang kantor on time, rumah jauh atau tidak mau membawa pekerjaan kantor ke rumah.

Yang saya sering lupa, setiap hari, ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang di luar sana menghitung tapak kakinya, berjalan menyusuri jalanan dengan bermandikan peluh dan berpayung matahari, membawa stofmap kuning atau biru di tangannya, menawarkan segala kemampuan yang dia punya untuk dapat diterima bekerja di salah satu perusahaan yang ada, namun jarang ada hasilnya.

—-

Seperti itulah saya. Tempatnya lupa. Malam itu, setelah sebuah kecelakaan kecil menimpa saya dan suami dalam perjalanan pulang kantor menuju rumah kontrakan kami di daerah bekasi. Saya berdiri dengan gemetar menyaksikan rangka depan mobil saya yang penyok di kanan kiri, pecah di bempernya. Saya yang saat itu sudah mengantuk hanya bisa saling menenangkan hati dengan suami. Dan setelah menunggu sekitar hampir satu jam, mobil derek datang untuk mengantarkan kami ke pintu tol terdekat. Saya dan suami tetap berada di dalam mobil selama proses penderekan, berdua hanya diam saja dan setengah melamun. Hingga derek sampai di luar tol, dan menawarkan bantuan untuk melanjutkan derek menuju bengkel terdekat. Karena letih, kami mengiyakan saja.

Keesokan harinya saya dan suami baru bisa mengurus segala keperluan service mobil dan asuransi di bengkel, tentunya setelah memindahkan mobil kami dari bengkel semalam ke bengkel resmi. Sesudahnya, Estimasi biaya yang tidak sedikit membuat saya dan suami lemas. Lebih sedih lagi mendengar estimasi waktu pengerjaan perbaikan yang diperkirakan sekitar dua minggu. Seketika langsung terbayang di otak saya, bagaimana kami akan bepergian dua minggu ke depan?

Satu dua hari kemudian saya dan suami memutuskan bepergian menggunakan taksi. Dan tidak seindah yang kami bayangkan. Selain waktu kami jadi banyak terbuang untuk menunggu taksi. Biaya yang kami keluarkan juga (lagi-lagi) tidak sedikit.

Esok petangnya, ketika ada waktu mengobrol berdua dengan suami. Yang mampu saya ucapkan hanya sebuah kata Maaf. “Mas.., maaf kalau selama ini saya terlalu banyak mengeluh dan kurang bersyukur”

Maaf kalau selama ini yang saya tau, saya berhak menuntut Pencipta saya untuk mengabulkan semua doa saya sesuai dengan yang saya kehendaki. Yang saya LUPA. Bahwa IALAH yang Maha Berkehendak. BUKAN SAYA. Yang saya SERING LUPA, betapa banyak orang yang tidak seberuntung saya dalam hidupnya dan sudah sepatutnya saya belajar untuk lebih bersyukur menjalani kehidupan ini bila mengingat hal itu. Tidak pantas sehari hari saya mengeluh capek hanya karena kemacetan di jalan kemudian melupakan nikmat dan karunianya yang telah menitipkan rejeki berupa kendaraan roda empat itu.Tidak pantas pula saya merisaukan hal-hal sepele lainnya kemudian lupa untuk bersyukur atas jutaan nikmat lainnya yang Allah karuniakan kepada saya.

Beginilah Allah mengingatkan saya. Memang, Saya sedih harus diingatkan melalui peristiwa yang tidak menyenangkan ini. Tapi kembali lagi saya mencoba bersyukur. Bersyukur karena karena kecelakaan itu hanya mobil  saja yang rusak. Bukan anggota badan saya atau suami saya yang rusak. Bersyukur karena Saya dan suami masih baik-baik saja. Dan bersyukur, karena secara tidak sadar,dengan musibah ini kami justru bisa memanfaatkan lebih banyak waktu berdua di rumah tanpa harus bepergian selain untuk bekerja.

Duhai Allah yang Maha Pemaaf, Ampuni kami atas segala LUPA ini..,dan semoga semakin hari kami bisa menjadi lebih baik lagi dari hari ini…

Senandung Bumi Laskar Pelangi

Menikmati senandung bumi laskar pelangi

 

Sore itu saya melihat dengan jelas bagaimana awan berusaha mengumpulkan gumpalan gumpalan air yang diuapkan matahari ke langit dan membentuknya menjadi bakal calon hujan. Sebuah proses pembentukan hujan yang saya yakini tak semua orang berkesempatan melihatnya, dan saya termasuk salah satu diantara trilyunan orang di dunia yang beruntung karena berkesempatan menyaksikan peristiwa itu. Hm… penerbangan sore itu memang benar benar penerbangan yang indah, cuaca amat sangat baik .membuat cahaya matahari yang berkilauan menerobos masuk lewat jendela dan menyirami separuh wajah saya . Saya benar benar menikmati perjalanan itu,mata saya tak lepas dari gumpalan gumpalan awan putih dan langit biru di hadapan saya, dan tak lepas pula dari  memandang hamparan hutan bak Baca lebih lanjut

Menulis di atas semangkuk mie instan (the power of syukur)

Malam ini saya tengah duduk tersudut sendiri di sebuah warung tenda kecil di bilangan grogol jakarta barat. Deru kendaraan berlalu lalang lengkap dengan sahut sahutan klakson dari mobil mobil mewah yang saling beradu untuk menjadi yang terdepan memekakan gendang telinga saya. Kota ini benar benar kota besar,ya…benar benar besar,dan hingar bingar. Baca lebih lanjut