Yang Saya Tau

Yang saya tau, saya berhak mengeluh ketika jalanan macet berjam-jam dan mobil saya tidak bisa bergerak karena banyaknya kendaraan lain yang terparkir bersama saya di ruas ruas jalan tol ibukota.

Yang saya sering lupa, sesungguhnya macet adalah nikmat. Yang hanya Allah berikan kepada mereka yang dikaruniai kesehatan untuk bisa bepergian keluar rumah, yang hanya Allah limpahkan kepada mereka yang dikaruniai rizki untuk membeli kendaraan roda empat.

Yang saya tau, saya berhak mengomel ketika pelayan restoran mengantarkan pesanan saya tidak sesuai dengan yang saya minta. Kadang terlalu asin, kadang kurang pedas, kurang telor mata sapi, kurang matang inilah itulah.

Yang saya sering lupa, banyak orang di luar sana yang bahkan makan hanya dengan nasi putih, atau nasi yang hampir basi tapi mereka tidak pernah mengomel, bahkan meski nasi yang mereka dapat berasal dari tong sampah atau bekas makanan orang , tapi mereka masih bisa menikmatinya dengan perasaan senang.

Yang saya tau, saya berhak malas malasan berangkat ke kantor karena jaraknya yang jauh dan perjalanannya yang tidak singkat, berhak ogah-ogahan mengerjakan tugas kantor karena saya bosan mengerjakan hal yang sama setiap hari, bahkan merasa berhak menolak ketika atasan saya memberi pekerjaan lebih dari yang seharusnya saya mampu kerjakan. Entah dengan alasan capek, pengen pulang kantor on time, rumah jauh atau tidak mau membawa pekerjaan kantor ke rumah.

Yang saya sering lupa, setiap hari, ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang di luar sana menghitung tapak kakinya, berjalan menyusuri jalanan dengan bermandikan peluh dan berpayung matahari, membawa stofmap kuning atau biru di tangannya, menawarkan segala kemampuan yang dia punya untuk dapat diterima bekerja di salah satu perusahaan yang ada, namun jarang ada hasilnya.

—-

Seperti itulah saya. Tempatnya lupa. Malam itu, setelah sebuah kecelakaan kecil menimpa saya dan suami dalam perjalanan pulang kantor menuju rumah kontrakan kami di daerah bekasi. Saya berdiri dengan gemetar menyaksikan rangka depan mobil saya yang penyok di kanan kiri, pecah di bempernya. Saya yang saat itu sudah mengantuk hanya bisa saling menenangkan hati dengan suami. Dan setelah menunggu sekitar hampir satu jam, mobil derek datang untuk mengantarkan kami ke pintu tol terdekat. Saya dan suami tetap berada di dalam mobil selama proses penderekan, berdua hanya diam saja dan setengah melamun. Hingga derek sampai di luar tol, dan menawarkan bantuan untuk melanjutkan derek menuju bengkel terdekat. Karena letih, kami mengiyakan saja.

Keesokan harinya saya dan suami baru bisa mengurus segala keperluan service mobil dan asuransi di bengkel, tentunya setelah memindahkan mobil kami dari bengkel semalam ke bengkel resmi. Sesudahnya, Estimasi biaya yang tidak sedikit membuat saya dan suami lemas. Lebih sedih lagi mendengar estimasi waktu pengerjaan perbaikan yang diperkirakan sekitar dua minggu. Seketika langsung terbayang di otak saya, bagaimana kami akan bepergian dua minggu ke depan?

Satu dua hari kemudian saya dan suami memutuskan bepergian menggunakan taksi. Dan tidak seindah yang kami bayangkan. Selain waktu kami jadi banyak terbuang untuk menunggu taksi. Biaya yang kami keluarkan juga (lagi-lagi) tidak sedikit.

Esok petangnya, ketika ada waktu mengobrol berdua dengan suami. Yang mampu saya ucapkan hanya sebuah kata Maaf. “Mas.., maaf kalau selama ini saya terlalu banyak mengeluh dan kurang bersyukur”

Maaf kalau selama ini yang saya tau, saya berhak menuntut Pencipta saya untuk mengabulkan semua doa saya sesuai dengan yang saya kehendaki. Yang saya LUPA. Bahwa IALAH yang Maha Berkehendak. BUKAN SAYA. Yang saya SERING LUPA, betapa banyak orang yang tidak seberuntung saya dalam hidupnya dan sudah sepatutnya saya belajar untuk lebih bersyukur menjalani kehidupan ini bila mengingat hal itu. Tidak pantas sehari hari saya mengeluh capek hanya karena kemacetan di jalan kemudian melupakan nikmat dan karunianya yang telah menitipkan rejeki berupa kendaraan roda empat itu.Tidak pantas pula saya merisaukan hal-hal sepele lainnya kemudian lupa untuk bersyukur atas jutaan nikmat lainnya yang Allah karuniakan kepada saya.

Beginilah Allah mengingatkan saya. Memang, Saya sedih harus diingatkan melalui peristiwa yang tidak menyenangkan ini. Tapi kembali lagi saya mencoba bersyukur. Bersyukur karena karena kecelakaan itu hanya mobil  saja yang rusak. Bukan anggota badan saya atau suami saya yang rusak. Bersyukur karena Saya dan suami masih baik-baik saja. Dan bersyukur, karena secara tidak sadar,dengan musibah ini kami justru bisa memanfaatkan lebih banyak waktu berdua di rumah tanpa harus bepergian selain untuk bekerja.

Duhai Allah yang Maha Pemaaf, Ampuni kami atas segala LUPA ini..,dan semoga semakin hari kami bisa menjadi lebih baik lagi dari hari ini…

Iklan

Only Human

image

Pernah ada suatu masa dimana saya merasa telah salah memberi nama blog ini. Dan sekarang pun saya tengah merasakannya. “indahnyahidupku” adalah salah tidak selalu benar adanya. Mungkin lebih tepat seharusnya “tidakselaluindahhidupku”. Namun lagi, ketika saya mencoba memaknainya lebih dalam, indahnyahidupku lebih kepada manifestasi saya atas rasa syukur terhadap nafas yang masih Allah titipkan kepada saya hingga detik ini, sekaligus pengharapan saya tentang kehidupan saya, yang meski tidak selalu indah,saya ingin senantiasa bisa memaknai setiap hikmah yang terjadi dengan indah.

Satu hal lagi, Masih ada yang saya rasa salah disini., tittle blog saya. Mari tengok sejenak ada tulisan apa disana. “Just a little angel’s diary”. Jelas ada yang salah kan dengan hal ini?Pada kenyataannya, saya ini bukan malaikat, saya hanya manusia biasa, tidak luput dari kesalahan, tidak lepas dari dosa, tidak terhindar dari kemunafikan.
Masih.bahkan mungkin sering. Berucap seenaknya, berperilaku semaunya, berkata yang menyakiti hati orang lain, bertindak tidak sepantasnya. Sombong, angkuh, merasa hebat, merasa paling benar, merasa lebih baik dari orang lain, meremehkan, dan masih saja sukar melepas diri dari buruk sangka.

Padahal, saya hanya manusia biasa. yang ketika Allah kirimkan sakit bronchitis ke paru paru saya, saya hanya bisa memelas kepadaNya. yang ketika Allah menghujani saya dengan luka, saya hanya bisa menangis karnanya. yang ketika (kelak) Allah mencabut nyawa saya, saya hanya bisa menyesal meratapi diri yang masih belum cukup bekal untuk kembali ke haribaanNya dan tidak punya daya untuk meminta kembali dilahirkan ke dunia.

Tulisan ini mungkin tidak begitu sarat makna seperti tulisan tulisan saya yang lain. Namun saya berharap, ini mampu mewakili “saya yang hanya manusia biasa” ini, memohon maaf kepada semua yang pernah tersakiti oleh apa yang saya lakukan ataupun saya ucapkan. Maaf atas ketidakmampuan saya menjaga apa yang seharusnya saya jaga. Maaf atas ketidaksempurnaan saya. Maaf atas kemunafikan saya. Maaf atas keterbatasan saya. Maaf saya bukan malaikat.

Dan sekaligus ingin saya sampaikan terimakasih kepada semua sahabat dengan segala supportnya, yang tetap selalu mencintai saya, meski saya tidak indah, meski saya bukan malaikat.

Dan terimakasih Allah, atas hidup yang indah ini..

#ChapterPatahHati

Image

Sebagaimana gadis gadis seusia saya di luar sana, saya pun pernah mengalami chapter ini. chapter dimana dunia serasa runtuh dalam sepersekian detik, menghancurkan hati hingga berpuing puing, meledakkan amarah hingga nyerinya menyambar seluruh lapisan urat nadi. Nada nada indah dari lagu lagu percintaan yang biasanya menarik untuk didengar tiba tiba menjadi dentuman dentuman symphony yang memekakkan gendang telinga. Nafas terasa sesak, lutut kaku hingga langkah runtuh tak mampu lagi menjejak tanah dengan sempurna. Nafsu makan hilang hanyut bersama dengan derasnya untaian air mata yang entah kenapa sulit untuk berhenti mengalir meski sudah dibendung dengan ribuan helai tissue.

Pada chapter ini, sebenarnya yang dibutuhkan saya dan gadis gadis seperti saya tidak banyak dan tidak muluk muluk. Biasanya ketika berada pada chapter ini saya hanya ingin sendiri, saya ingin berbaring di tempat tidur selama yang saya bisa, saya ingin secangkir kopi, beberapa batang cokelat atau beberapa cup ice cream, saya ingin menonton televisi hingga bosan, ingin meratapi malam dengan murung hingga mata saya berkantung, saya ingin berteriak sekuat tenaga di tepian jurang yang bisa menggaungkan teriakan saya, ingin menyelamkan diri ke lautan untuk menari bersama ikan, membenamkan diri di tengah hujan agar air mata saya tersapu rintiknya, dan yang paling sederhana dari sekian banyak “ingin” ini adalah,..saya ingin ada pelukan seorang sahabat.

Pada chapter ini, ketika pelukan sahabat itu datang, cerita demi cerita mengalun seperti seonggok beban yang saya pikul sedikit demi sedikit saya pindahkan ke pundaknya untuk kami pikul bersama. Atau kadang sahabat mampu membuat beban itu tak lagi berat, sehingga tak lagi menjadi beban. Terkadang pula, seorang sahabat mampu mengubah tangisan saya menjadi tawa yang meledak ledak. Padahal, yang dilakukannya tidak banyak. Yang dilakukannya hanya memeluk dan menjadi pendengar yang baik.itu saja.

Namun sayangnya..,pada chapter ini,pelukan sahabat tak selalu ada. Entah sedang dengan kesibukannya, atau mungkin sedang berkecamuk pada chapter yang sama. Atau kadang, sahabat ada, namun saya merasa tidak mampu untuk berbagi cerita dengannya. Antara malu, sungkan, dan mungkin memang tidak tahu harus bercerita darimana. Pada chapter ini dan pada saat seperti ini, ketika sahabat tak ada, tiada lain yang bisa saya jadikan tempat bersandar selain Dia.

Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir ( QS. Ali Imran.173)
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”

Dia selalu ada untuk saya, Dia Maha Mendengar semua keluh kesah saya meski tak ada satu katapun terucap.  Dia Maha Tahu apa yang saya rasakan dalam chapter ini. Dia Maha Menenangkan segala gundah gulana yang saya rasa. Dia Maha Pengasih, dan dengan kasihNya membawa saya ke dalam pelukanNya, membisikkan kepada saya bahwa Dia membawa saya ke dalam chapter ini untuk sementara, tidak lama.., Dia hanya sedang rindu kepada saya, Dia hanya ingin saya kembali mengingatNya, Dia ingin saya tahu bahwa Dia selalu ada untuk saya, Dia membiarkan saya merasakan luka untuk kemudian menyiapkan obatnya. Dan Dia meyakinkan saya bahwa tidak ada lagi yang perlu dikhawatikan ketika Dia ada. Dialah sebaik baik pelindung, sehingga hanya kepadaNya-lah saya mampu memohon perlindungan dan pertolongan.

“a brand new day has come, The rainbow has appeared after the violent storm, The flowers has bloom after freezing winter, and the wounded heart has healed after it broken.”

Pada akhirnya saya tahu,..Chapter ini tidak perlu dihindari karna ini adalah bagian dari proses pendewasaan diri. Tidak pula chapter ini perlu diulur ulur hingga kita tidak mampu beranjak pergi dan tenggelam dalam frustasi. Chapter ini hanya perlu dilewati dengan baik, dengan kepercayaan penuh bahwa Allah itu ada untuk kita. Siapapun yang berhasil melewati chapter ini, adalah pribadi yang mampu melewati satu tahap ujian dariNya,  pribadi yang akan menjadi lebih kuat dan tangguh dari sebelumnya, dan pribadi yang insyaAllah lebih baik jika ia mampu mengambil hikmah dari chapter ini dan mampu kembali kepada Yang Maha Menciptakan Chapter ini dan chapter chapter lain dalam hidup ini. Chapter yang tentunya jauh lebih indah dari chapter ini. Chapter yang tidak menyakitkan. Chapter yang penuh kebahagiaan dan keindahan di dalamnya. Chapter yang dijanjikanNya bagi orang orang yang bersabar.

Sahabatku, jika saat ini kamu masih terus sedang berada pada chapter ini. Let it go, mari sini saya peluk, dengarkan saya, sebaiknya kamu akhiri chapter ini sekarang, be strong! , tersenyumlah seperti matahari pagi tersenyum kepadamu, dan mari move on . ada chapter lain yang menunggumu di depan sana. :”)

Malam…

dark_night-t2Saya tidak ingat persis sejak kapan hal ini saya rasakan. Saya bahkan kurang yakin tentang apa yang saya rasakan ini. Tapi yang jelas, semenjak saat itu datang, saya mulai mencintai malam.

Ya, malam.

Dahulu, saya pecinta pagi, dengan tetesan embunnya yang jernih dan menyejukkan, dengan pelukan matahari yang menghangatkan, dengan cinta langit yang membiru mengangkasa.

Dahulu, saya mencintai pagi. Setiap hari saya menyambutnya dengan senyum, setiap hari saya melangkahkan kaki dengan ringan untuk berteriak semangat pada pagi. Setiap hari saya menapakkan jejak jejak langkah dengan riang memulai segala aktivitas.

Dahulu saya cerah seperti pagi, dahulu saya hangat kepada semua orang seperti mentari pagi. Dahulu saya berusaha menjadi terang,bersinar, dan gemilang seperti kemilaunya pagi.

Sekarang?yang saya bilang entah sejak kapan itu. Saya lebih mencintai malam. Saya bukannya tidak mau lagi menjadi sehangat pagi. Tapi bagi saya sekarang, malam jauh lebih indah. Malam mungkin tidak terang, namun gelapnya meneduhkan. Malam mungkin tidak begitu bersinar, namun gemintangnya sangat indah. Malam mungkin tidak berkilau, namun kesyahduannya menenangkan.

Malam, dia tidak banyak bicara, tidak bising, malam itu lembut. Malam tidak panas, kesejukannya membuat saya nyaman. Malam tidak banyak polah, dia tidak menuntut saya untuk beraktivitas banyak, dia hanya memandang saya dari kejauhan untuk membiarkan saya terbaring dengan tenang di peraduan saya, meninabobokan saya dengan nyanyian alamnya, dan bertasbih menyebut asma Allah, berharap agar saya masih dapat berjumpa dengan malam malam berikutnya.

Terimakasih malam, sampai jumpa besok malam.InsyaAllah…

Percakapan di Kala Itu

Kaku.

Melihat raut wajah bocah mungil itu terpekur di depan ruko yang dini hari itu sudah tutup. Tubuhnya sesekali berguling ke kanan dan ke kiri, persis seperti adik kecil saya kalau sedang tidur di kasur di rumah, bedanya, kasur bocah ini adalah lantai teras ruko, di pinggir jalan, tanpa selimut, tanpa bantal guling, penuh debu, dan di sisinya tempat sampah.

Ibu bocah itu nampaknya sudah cukup berumur, kerut kerutan di wajahnya menggambarkan keletihan. Pasti! Pasti beliau letih sekali berhari hari hidup di jalan seperti itu. Pasti beliau rindu tempat bernaung yang nyaman dan hangat. Ibu itu sekilas nampak nyaris tertidur, namun segera terjaga untuk menghalau nyamuk dan lalat yang mengganggu tidur putra kecilnya.

Saya yang sedari tadi hanya mengamati mereka dari kejauhan, akhirnya memutuskan untuk berjalan menjauh. Saya lapar sekali malam itu, hampir 24 jam perut saya belum makan nasi. Bukan karna apa, saya cuma lupa makan. Iya, seriusan lupa makan. Entah kenapa akhir akhir ini sering begitu. Akhirnya saya berhenti di warung tenda yang menjual pecel lele. Pesan 3 porsi pecel ayam dibungkus. Lalu kembali ke emperan toko tempat ibu yang saya ceritakan tadi.

Saya parkirkan motor. Lalu berjalan menuju ibu itu. Agak takut dan agak tidak percaya diri. Namun akhirnya saya beranikan diri juga. ” Permisi ibu.., sudah makan?”, ibu itu agak kaget dengan kedatangan saya, lalu menggeleng. Saya mengajaknya makan bersama setelah itu. dan beliau buru buru membangunkan anaknya untuk ikut makan.

Sembari makan bersama disana. Ibu itu lahap, sampai tidak banyak bercerita. Hanya sesekali ketika saya bertanya, beliau menjawab. Dan dari percakapan singkat kami, saya tahu beliau bernama ibu Yanti, pekerjaannya pemulung, suaminya entah kemana, dan anaknya 6 tahun bernama Koko. Ibu Yanti tinggal dari satu emper toko ke emperan yang lain. Asal beliau dari Blitar. dan dari memulung, beliau bisa mendapat penghasilan 6000 – 15000 sehari tergantung banyaknya sampah yang bisa didapatkan.

Waktu menunjukkan pukul 01.15 pagi ketika saya berpamitan kepada Ibu Yanti. Saya mengambil sejumlah uang yang tersisa di dompet untuk saya berikan kepada beliau, namun dengan sangat halus beliau menolak. Glek! Matilah saya jangan jangan ibu yanti tersinggung kalau dikasih uang.*aduh jadi ga enak saya*
Namun kemudian kegundahan saya terjawab ketika ibu yanti mengatakan ” jangan kasih uang mbak.., kasih aja saya makan lagi kalo kita ketemu lagi, kalo ngasihnya uang paling paling nanti diambil preman”. Oooh..,saya ber ooo panjang dalam hati, lalu mengangguk mengiyakan. Bersalaman dengan ibu yanti dan koko yang mukanya masih setengah mengantuk. Lalu pergi.

Esok malamnya,hingga malam dua hari yang lalu,tiap melintas di tempat yang sama saya menoleh sejenak berharap bertemu lagi dengan bu yanti atau koko.tapi nihil. Pastilah mereka sudah hijrah ke tempat tinggal yang lain lagi. Ah.., meski pertemuan itu singkat, namun rasanya..,entah kenapa saya kangen sama ibu dan adik itu. Saya berharap, saat ini dimanapun mereka berada, Allah menyelimuti mereka dengan kasihNya, dengan sayangNya.., dan memeluk mereka dalam penjagaanNya.semoga.Amin.

Note : Untuk teman” yang saya sayangi.., kalau ketemu ibu yanti,koko, atau teman” ibu yanti. Jangan kasih uang yah..,kasih saja makan. Ibu yanti pasti senang :).

sumber gambar : http://firefley.blogspot.com/2010_02_01_archive.html

“Lapangan mana….kak??!”

Langit jakarta malam ini nampak lain dari malam malam biasanya. Malam ini banyak bintang, teduh, dan setia sekali menyelimuti saya dalam perjalanan melelahkan seharian ini. Truk truk besar berlalu lalang tanpa kenal lelah, saya bahkan ragu apakah mereka mengenal siang dan malam. Lampu lampu mobil yang macet dengan tertata nampak apik jika disaksikan dari atas flyover yang saya lintasi. Masih sembari mengendarai motor, mata saya tak lepas dari puncak puncak bangunan bangunan tinggi yang seolah hendak meraih kaki langit namun tak sampai. Pemandangan yang kontras dengan yang saya saksikan ketika melintas di kolong tol. Ternyata benar ada yah, penduduk jakarta yang rumahnya beralaskan tanah dan beratapkan langit? penduduk Ibukota Negara ini yang menyebut kolong tol itu sebagai “rumah”? Saya kira itu hanya ada di tivi saja. Ah!kontras!

Apartemen demi apartemen, mall demi mall, residence…atau apalah itu istilahnya….,berlomba lomba dibangun megah untuk membuat kota ini semakin hari semakin mentereng. Para pengusaha properti sekelas pemilik podomoro group atau bong candra pasti senyumnya semakin gemilang dengan pesatnya pembangunan bangunan bangunan megah itu. Hem…Mereka pernah tidak yah, berpikir untuk membangun, 1 saja!yap!satu saja! Rumah sederhana, untuk dapat dihuni oleh para penghuni kolong tol? Sederhanaaa…saja.!tidak usah mewah mentereng,tidak usah berAC,tidak usah berlampu-lampu hias,tidak usah berlantai limapuluh,tidak usah berstandar internasional,sederhana saja, sepetakk rumah dengan sekotak kasur kapuk yang bisa untuk tidur nyenyak dengan selimut kecil, kamar mandi 1×1 yang layak,dapur yang ….yang penting bisa untuk masak. Pernah tidak yah disela sela membangun apartemen dan mall mereka memikirkan itu??mudah mudahan pernah yah? 😀

Motor saya masih melaju. Belum lagi saya selesai melamunkan tentang rumah untuk penghuni tol, sebuah klakson kencang mengagetkan saya dari arah belakang. Eh, agaknya saya berkendara terlalu pelan, sehingga mobil di belakang saya yang “mungkin” sedang terburu buru sampai harus meng-klakson sebegitu semangatnya.haha. Biarlah, yang penting, sebentar lagi saya sampai kos. Saya memasuki gang kecil di daerah Warakas, menggelayut mengikuti ritme polisi tidur yang bertubi tubi di setiap gang yang saya lewati, tiba tiba saya terpaksa mengerem mendadak motor saya karna sebuah bola kaki melintas persis!di depan motor saya yang melintas.

Astaghfirullah!nyaris saja! bocah yang berlari mengejar bola itu tertabrak oleh saya. Badan saya gemetar,degup jantung meningkat drastis. Rasanya ingin marah, tapi melihat ekspresi anak anak kecil itu yang tidak berdosa, saya lantas berusaha menenangkan diri. Saya pinggirkan motor, lalu saya panggil anak tadi dan teman temannya yang tengah bermain bola di jalan gang. Saya turun dari motor dan memungut bola yang menggelinding tak jauh dari tempat saya berdiri. “Bolanya buat kakak yah?”,tanya saya kepada mereka, mereka hanya diam, paling banter mereka saling colek satu sama lain. “iyah..habisnya kalian nakal!main bola kok di jalan gang?kan bahaya..,kaya tadi?hampir ketabrak kan?main bola di jalan gang itu bahaya dek..,ga boleh lagi yah..,pokonya bolanya buat kakak,sampai kalian mau janji ga main bola di jalan gang lagi!” Mereka tetap diam. Untuk sejenak saya merasa sok bijak telah memberikan pelajaran berharga untuk anak anak itu. Namun sedetik kemudian, seorang dari mereka angkat bicara. “Kak.,maaf dong kalo tadi kita maen bolanya bikin kakak hampir nabrak.Tapi bolanya jangan diambil dong!”kata seorang anak berkaus putih. Saya pun menjawab “hem..oke,kakak kembalikan.tapi janji yah jangan main bola di jalan gang lagi yah?”,anak itu menjawab lagi.”trus maennya dimana dong kak?” ujarnya sambil bersungut. “di lapangan kan bisa..,”,jawab saya enteng. Lalu dengan mata beningnya, anak itu menjawab lagi “lapangan mana kak??!

Glek! Rasanya kedua kaki saya lemas seketika mendengar jawaban itu. Saya bijak??apanya??ini mah sok bijak namanya saya. Tanpa banyak kata, saya ulurkan bola kaki mereka kembali pada empunya, lalu berlalu meninggalkan mereka. “Lapangan mana kak??!” pertanyaan itu masih menggema sampai saat ini di telinga saya. Dan saya masih belum bisa menemukan jawabannya. Ketika disana sini saya lihat memang lebih banyak rumah berdempet dempet sempit tanpa halaman dan tembok pembatas dengan tetangga.

Maafin kakak yah dek.., mudah mudahan besok” ada orang baik hati yang merelakan tanahnya untuk dijadikan lapangan untuk kalian bermain. Amin. *mungkin tidak yah? Ah..pokoknya amin.

gambar diambil dari sini

Dear Ibu,..

Dear Ibu..,
Malam ini..,menginjak tahun ke tujuh aku hidup di ranah rantau,…ditengah segala rutinitas dan kesibukanku,..di antara detak jarum jam dinding yang tak pernah berhenti mengalun…entah kenapa tiba tiba teringat beberapa hari lagi adalah hari Ibu, dan sekaligus hari ulang tahun Ibu dan entah kenapa kali ini aku pengen mengucapkannya melalui secarik surat..

Bu… usiaku kini dua puluh dua tahun sudah.., aku bukan lagi gadis kecil Ibu yang Ibu sisir rambutnya ketika seusai mandi…, aku bukan lagi gadis kecil Ibu yang manangis saat bonekaku diambil teman…aku bukan lagi gadis kecil Ibu yang takut sendirian di rumah …kini…beragam kota aku lewati sudah.., dan berbagai macam orang dengan karakteristiknya mulai aku pahami..,namun sungguh tak ada yang menandingi kehebatan dan keluar biasaanmu, Ibu..
Bu.., terimakasih yah,,..atas semua kepercayaan yang Ibu berikan kepada aku..,di saat orang orang lain mencibir dan mmempengaruhiku untuk tetap tinggal bersama ibu karna aku perempuan…Ibu adalah orang pertama yang mendukung aku untuk merantau,..Ibu orang pertama yang menyetujui kemanapun aku pergi.., terimakasih Ibu percaya bahwa aku bisa menjaga diriku dengan baik..sama seperti bagaimana Ibu menjagaku di waktu kecil dulu….

Bu.., terimakasih yah…selalu mendukung semua kegiatan yang aku suka…, ketika beberapa temanku bilang pengen ini…pengen itu…dan Ibu mereka melarang. Ibu sama sekali tidak pernah melarang aku untuk melakukan yang aku suka. Ibu selalu total mendukung aku, sampai aku jadi siswa teladan…, aku jadi Ketua Osis, aku menang lomba debat bahasa Inggris, aku jadi calon Presiden Mahasiswa di kampus, aku ikut karate, aku ikut paduan suara, bahkan sampai aku kuliah di jurusan teknik elektro…, ibu selalu mendukung,,,ibu tidak pernah bilang tidak boleh.., Ibu selalu jadi orang di deretan terdepan yang setia menyatakan dukungannya kepadaku.., sampai akhirnya aku bisa merasakan keliling Indonesia dengan usahaku sendiri, itu pun karna dukungan Ibu…,

Bu…, terimakasih yah…, Ibu selalu jadi obat terdahsyat ketika aku terbaring lemah di rumah sakit.., ketika dokter bilang aku harus operasi ini itu…ketika dokter bilang aku harus rawat inap…minum obat ini,,,harus suntik itu…, ibu selalu datang di sebelah ranjang pasien tempat aku dirawat.., ibu genggam tanganku dan saat itu seolah semua rasa sakit yang aku rasakan menjadi berkurang…, magic memang…tapi begitulah aku merasakan kekuatan kasih sayang Ibu…
Bu…,maaf yah kalau beberapa kali aku pernah menyakiti hati Ibu…,entah karna ucapan atau perbuatanku.., beberapa kali membuat Ibu marah…beberapa kali membuat Ibu kecewa…, membuat Ibu menangis,,sungguh apabila waktu bisa diputar kembali…rasanya ingin mengulang saat saat dimana aku membuat ibu sedih,,,dan aku akan berusaha menghindarinyaa..

Bu,,,maaf yah..kalau waktuku untuk ibu kini tak sebanyak dulu…,kini aku menghabiskan Senin sampai Jumat untuk bekerja siang dan malam…dan Sabtu Minggu untuk melanjutkan kuliah…, sampai sampai untuk sekedar mengirim sms kepada Ibu mungkin hanya bisa satu bulan sekali….ah!jahatnya aku..
Bu.., maafin aku yah…kalau aku jarang pulang….tahun lalu hanya sempat dua kali pulang dalam setahun…bukan karna aku ga kangen atau ga pengen ketemu Ibu,…tapi karna memang aku nyaris tak pernah punya hari libur bu…,
Bu…, sekalipun aku jarang sms Ibu…jarang telpon Ibu,..dan jarang pulang untuk ketemu Ibu…, percayalah Bu.., doa aku untuk Ibu selalu aku panjatkan di setiap aku mengingat Ibu…, diwaktu pagi…dikala siang…dipenghujung malam…, doaku semoga Allah memberikan limpahan rizki kepada Ibu…

Robbigh firli waliwali dayya warhamhuma kama robbayani shoghiro
“Ya Allah ampunilah aku dan kedua orangtuaku dan kasihanilah mereka berdua sebagaiaman mereka telah mendidikku diwaktu kecil”

Bu…., beberapa hari lagi usia Ibu 47 tahun sudah..semoga Ibu sehat selalu… semoga Allah melindungi Ibu dalam setiap langkah Ibu…,semoga sisa umurnya berkah yah bu…, semoga sinar Ibu selalu menerangi orang orang di sekitar Ibu, semoga selalu menorehkan prestasi prestasi tanpa henti.., semoga selalu mengembangkan senyum..,dimanapun kapanpun.Amin.

Jakarta, Desember 2011
Peluk sayang dari jauh untuk Ibu

Anakmu.

NB:Tulisan di atas dan surat cinta untuk Mama yang lain dapat dilihat di buku #DearMama ke-7 yang bisa kalian dapatkan di @nulisbuku / nulisbuku.com / http://dearbooksproject.wordpress.com/