Percakapan di Kala Itu

Kaku.

Melihat raut wajah bocah mungil itu terpekur di depan ruko yang dini hari itu sudah tutup. Tubuhnya sesekali berguling ke kanan dan ke kiri, persis seperti adik kecil saya kalau sedang tidur di kasur di rumah, bedanya, kasur bocah ini adalah lantai teras ruko, di pinggir jalan, tanpa selimut, tanpa bantal guling, penuh debu, dan di sisinya tempat sampah.

Ibu bocah itu nampaknya sudah cukup berumur, kerut kerutan di wajahnya menggambarkan keletihan. Pasti! Pasti beliau letih sekali berhari hari hidup di jalan seperti itu. Pasti beliau rindu tempat bernaung yang nyaman dan hangat. Ibu itu sekilas nampak nyaris tertidur, namun segera terjaga untuk menghalau nyamuk dan lalat yang mengganggu tidur putra kecilnya.

Saya yang sedari tadi hanya mengamati mereka dari kejauhan, akhirnya memutuskan untuk berjalan menjauh. Saya lapar sekali malam itu, hampir 24 jam perut saya belum makan nasi. Bukan karna apa, saya cuma lupa makan. Iya, seriusan lupa makan. Entah kenapa akhir akhir ini sering begitu. Akhirnya saya berhenti di warung tenda yang menjual pecel lele. Pesan 3 porsi pecel ayam dibungkus. Lalu kembali ke emperan toko tempat ibu yang saya ceritakan tadi.

Saya parkirkan motor. Lalu berjalan menuju ibu itu. Agak takut dan agak tidak percaya diri. Namun akhirnya saya beranikan diri juga. ” Permisi ibu.., sudah makan?”, ibu itu agak kaget dengan kedatangan saya, lalu menggeleng. Saya mengajaknya makan bersama setelah itu. dan beliau buru buru membangunkan anaknya untuk ikut makan.

Sembari makan bersama disana. Ibu itu lahap, sampai tidak banyak bercerita. Hanya sesekali ketika saya bertanya, beliau menjawab. Dan dari percakapan singkat kami, saya tahu beliau bernama ibu Yanti, pekerjaannya pemulung, suaminya entah kemana, dan anaknya 6 tahun bernama Koko. Ibu Yanti tinggal dari satu emper toko ke emperan yang lain. Asal beliau dari Blitar. dan dari memulung, beliau bisa mendapat penghasilan 6000 – 15000 sehari tergantung banyaknya sampah yang bisa didapatkan.

Waktu menunjukkan pukul 01.15 pagi ketika saya berpamitan kepada Ibu Yanti. Saya mengambil sejumlah uang yang tersisa di dompet untuk saya berikan kepada beliau, namun dengan sangat halus beliau menolak. Glek! Matilah saya jangan jangan ibu yanti tersinggung kalau dikasih uang.*aduh jadi ga enak saya*
Namun kemudian kegundahan saya terjawab ketika ibu yanti mengatakan ” jangan kasih uang mbak.., kasih aja saya makan lagi kalo kita ketemu lagi, kalo ngasihnya uang paling paling nanti diambil preman”. Oooh..,saya ber ooo panjang dalam hati, lalu mengangguk mengiyakan. Bersalaman dengan ibu yanti dan koko yang mukanya masih setengah mengantuk. Lalu pergi.

Esok malamnya,hingga malam dua hari yang lalu,tiap melintas di tempat yang sama saya menoleh sejenak berharap bertemu lagi dengan bu yanti atau koko.tapi nihil. Pastilah mereka sudah hijrah ke tempat tinggal yang lain lagi. Ah.., meski pertemuan itu singkat, namun rasanya..,entah kenapa saya kangen sama ibu dan adik itu. Saya berharap, saat ini dimanapun mereka berada, Allah menyelimuti mereka dengan kasihNya, dengan sayangNya.., dan memeluk mereka dalam penjagaanNya.semoga.Amin.

Note : Untuk teman” yang saya sayangi.., kalau ketemu ibu yanti,koko, atau teman” ibu yanti. Jangan kasih uang yah..,kasih saja makan. Ibu yanti pasti senang :).

sumber gambar : http://firefley.blogspot.com/2010_02_01_archive.html

Iklan

4 thoughts on “Percakapan di Kala Itu

  1. subhanallah, mbak indah mulia sekali. saya aja takut nyinggung perasaan mereka kalo ketemu orang seperti ibu yanti.. dan memberi sesuatu 😦

  2. ” jangan kasih uang mbak.., kasih aja saya makan lagi kalo kita ketemu lagi, kalo ngasihnya uang paling paling nanti diambil preman”.

    Statement yang serasa gak mungkin walaupun nyata, InsyaAllah si Ibu selalu dipenuhi rizq nya, kita do’ain dagh sama2. Nice share sis πŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s