Renungan bersama si tanah basah…

Hujan deras pagi ini memaksa saya untuk sedikit bermalas malasan sambil meninggikan selimut tebal yang disediakan oleh emak(panggilan untuk ibu kos saya) di kamar saya ini. Bau tanah basah menyergap masuk melalui celah ventilasi yang hanya tertutup oleh plastik lebar yang sudah sobek disana sini.. Brrr…sambil memeluk diri saya sendiri dengan menelungkupkan kedua tangan di depan dada…saya mulai mengatur nafas. Saya enggan dinginnya pagi ini mematahkan semangat saya untuk kembali bekerja setelah berhari hari tergolek lemah tak berdaya di tempat tidur ini.

Masih sambil menahan hawa dingin pagi itu, seperti biasa angan saya mulai beraksi dan menari nari ke lapis langit ketujuh. Astaghfirullah… hari ini adalah 4 hari terakhir saya akan menjalani kehidupan di kota Pangkalpinang, kepulauan Bangka Belitung. Hari ini adalah hari ke tujuh puluh tiga saya berada di kota ini untuk selanjutnya meneruskan perjalanan saya ke belahan Indonesia yang lainΒ  lagi. dan tanpa saya sadari pula…itu berarti….sudah tujuh puluh tiga hari ini hati saya tak lagi pernah tersirami oleh percikan percikan penyejuk rohani yang menentramkan kalbu. Sungguh jauh berbeda dengan ketika saya berada di kota Surakarta dulu. Di sana setiap ba’da dzuhur saya mendapat kajian dari para ustadz..ba’da ashar ada kajian hadis dengan teman teman sekantor….oh indahnya… namun disini tidak lagi…oh..sedihnya….

Jiwa … bagaikan ladang gersang yang tak pernah tersentuh setetes air pun… Kalbu… bagai tenggorokan yang tercekat tanpa meneguk segelas airpun di tengan padang pasir… Astaghfirullah… begitu gersangnya jiwa saya…begitu jauhnya saya dari Allah.. πŸ˜₯

Saya bahkan iri dengan tanah yang basah pagi ini,saya iri dengan dedauanan yang nampak segar kerna tetes demi tetes air hujan membasahi mereka dengan sabar….Bahagianya jadi mereka, sejuk..tentram..dan damai…

Jauh dengan diri saya yang tengah haus siraman rohani. Hal yang menjadikan saya malas untuk menyempatkan beberapa menit untuk berkencan dengan Allah di sepertiga malam terakhir..hal yang membuat saya lebih bergairah membuka facebook setiap hari ketimbang membuka mushaf Quran yang saya pamerkan di meja kamar saya. Hal yang membuat saya kembali mengingat pedihnya kehilangan cinta cinta duniawi yang membutakan…dan astaghfirullah..hal ini pula yang membuat saya menjadi makhluk yang hampir lupa caranya bersyukur. πŸ˜₯ maafkan saya Ya Allah… bahkan untuk mengucap.. “Ya Allah… terimakasih masih mempercayakan hela demi hela nafas ini kepada saya hingga saya masih bisa terbangun di pagi yang indah ini..” .. atau untuk mengucap..” terimakasih Ya Allah…pagi ini saya sembuh…”…atau untuk tersenyum dan berkata ” terimakasih Ya Allah… saya menginjakkan kaki di gerbang kantor dengan selamat… ” … saya lupa Ya Allah…

Ada kalanya saya merasa menjadi orang paling tidak beruntung sedunia..padahal betapa banyak yang sudah Allah berikan kepada saya?? ada kalanya saya menangisi kepergian orang orang yang saya sayangi dan merasa bahwa saya hidup sendiri, dan merasa menjadi wanita paling kesepian sedunia…padahal di saat sepi lah saya dapat lebih banyak belajar tentang ketangguhan… Ada kalanya saya merasa tercabik cabik ketika seseorang begitu merendahkan dan menginjak harga diri saya, padahal di kala itulah Allah ingin menjadikannya ladang pahala yang sangat luas untuk saya……

Astaghfirullah….

Allahumma inna maghfirataka arjaa min ‘amalii wainna rahmataka awsa’u min dzanbii, Allahumma in-lam akun ahlan an ablugha rahmataka farahmatuka ahlun an tablughanii liannahaa wasi’at kulla syay-in yaa arhamar-raahimin

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya ampunan-Mu lebih aku harapkan daripada perbuatanku, dan rahmat-Mu lebih luas daripada dosaku. Wahai Tuhanku, jika diriku sepatutnya menggapai rahmat-Mu, tapi rahmat-Mu lebih patut menjangkau diriku, karena bentangan rahmat-Mu merantai segala sesuatu, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih yang berbelas kasih.”

 

Masih dengan tanah yang basah… pagi ini saya menutup mata sejenak untuk memanjatkan doa….menghela nafas panjang… berharap Allah memaafkan saya.. dan bergegas bangun untuk merapikan tempat tidur dan memupuk semangat untuk melangkahkan kaki menuju ke tempat kerja saya..

Bismillahirohmanirohim…. Saya boleh menjadi orang yang buruk di hari kemarin…..tapi saya tidak boleh menajdi orang yang lebih buruk lagi di hari ini….amien….. πŸ™‚

Iklan

21 thoughts on “Renungan bersama si tanah basah…

  1. kadang dunia membuat kita lupa akan bersyukur
    kadang kehilangan membuat kita lupa bahwa kita masih memiliki yang lain
    makasih ya indah untuk renungan kali ini
    hari ini harus lebih baik dari kemaren, begitu kan ya?
    Terima kasih Ya Allah masih mempercayakan kami ada pada hari ini Amin…

  2. Hidup mengajari kita tentang makna syukur di fajar hari, juga tentang kerja keras di teriknya siang, tersenyum saat senja menjelang, serta merasa damai ketika terlelap dalam malam. Allah tahu lelahnya raga kita setip hari, DIA juga tahu berkurangnya jatah bersantai yang harus kita nikmati, Allah sangat tahu … tetapi kita harus tetap tersenyum karna ternyata senyum kita akan dibalas-nya dengan rangkaian berkah tiada tara.. Saudariku.. tak peduli asal kita dari mana.. tak pduli dosa terbesar apa yang kita pernah lakukan.. yakinlah ketika kau memutuskan untuk mendekati-nya.. maka Allah akan menyambutmu dan memuliakanmu..

    Ya, dan satu hal lagi, terkadang, si tanah basah, mampu memberi banyak kisah yang lebih indah dari yang kita kira, kesemuanya itu akan baik jika kita renungkan… πŸ™‚

    * maaf jika komennya tidak nyambung, hhehe.. Saya juga sering buka facebook, jadi malu.. hhoho..

    ohya ini balasan yang kemarin…

    *****

    Hhehe, beberapa waktu ini sedang sibuk (lebih tepatnya sok sibuk) berkutat di dunia kampus saja, jadi jarang berkunjung.. Afwan

    Alhamdulillah baik, Teh Indah bagaimana ? Sehat kah ?

    Wah, Teh Indah terlalu memuji, tetapi aamiin, semoga apa yang saya utarakkan bisa mencairkan kebekuan hati, hho..

    Sama-sama…
    Semangat !

  3. ..bersama si tanah basah.. dalam banget Ndah,membuat tangan ini jadi bergetar saat mengetik komen ini.

    Yah..dengan tanah basah seperti itu kita ‘manusia’ dibuat,dan ketanah basah seperti itu pula kita akan disemayamkan. Subhanallah..

    β€œKeindahan hanyalah permainan paradigma,lihatlah keindahan dengan mata hati yang indah,tidak perduli dari sudut mana Anda melihat,semuanya akan terlihat indah,walau itu hanya seonggok tanah sekalipun,akan menjadi indah. Sesungguhnya keindahan hakiki adalah kejujuran dan keikhlasan untuk mengakui bawa DIA hanya membuat kita dari tanah kemudian menjadi indah, setelah itu menjadi tidak indah lagi dan akhirnya kembali ke tanah. Maka buatlah namamu dikenang indah karena doa akan mengalir hanya dari namamu yang indah” (Mei 2010).

  4. Ping-balik: indah pada sisa hujan « Web blog si Lugie

  5. semoga segera memperoleh kembali basah2 itu yg mengguyur kekeringan spiritual.
    sy jg ngerasa gitu di jkarta.
    Solo memang kota terbaik dr sisi pengembangan nilai reliji. Banyak yg bilang kok.

    *sebenanrya kerjanya apa to? kok pindah2 kota provinsi ? Keliling Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s