Durian dan Ramadhan

Dear diary,
Ketika hati tak mampu bicara, ketika mata tak sanggup meraba, maka segala ciptaan Allah menjadi petunjuk tersendiri akan keindahan alam yang ada di dunia, untuk yang hidup didalamnya,dalam angan untuk menggapai surgaNya.

Durian dan Ramadhan…
Siapa pula yang tak suka durian… buah lezat dengan wangi menggugah selera….dibalut duri yang menyimpan biji berdaging buah tebal penuh kenikmatan,,,,, aih…aih.. :mrgreen:
Dan siapa gerangan tak cinta ramadhan,.. bulan penuh hikmah..dibalut pahala….menyimpan berjuta ampunan….yang membawa kita kembali kepada fitrah…,yang nikmatnya tiada terkira….Subhanallah.. 🙂

Saya suka durian, dan saya cinta Ramadhan.

Saya teringat sekali, dulu waktu ayah saya pulang kantor membawa seikat durian,hmmm..dari jauh baunya sudah tercium sangat wangi, saya,kakak saya,adik saya, dan juga ibu saya berhamburan menyambut kedatangan durian itu, saya mengikuti arah kemana ayah saya pergi membawa durian itu, dan baunya masih tercium hingga akhirnya saya mulai menjauh ketika saya berusaha membukanya,dan “au…”..tertusuk durinya. satu persatu anggota keluarga mencoba membukanya dan mencoba menghadapi duri duri yang menyakitkan itu, dan beberapa diantaranya akhirnya mundur teratur,…walaupun masih ingin menikmati buah lezat itu. namun saya tak mau ikut mundur, saya terus menguatkan diri, rasa sakit akan duri pasti bisa dihindari, saya menggunakan sarung tangan tebal, dibantu dengan pisau tajam untuk membuka durian itu..sudah terbuka sedikit namun ternyata tidak semudah itu untuk menikmatinya, tangan saya harus kembali mengerahkan tenaga untuk menarik ujung durian itu hingga terbuka. Dan ketika durian terbuka, saya ambil buah nya, dan nyummy,,saya rasakan betapa nikmatnya durian itu.

Datangnya durian membuat saya teringat, ketika Ramadhan datang, saya gembira sekali menyambut aroma Ramadhan yang datang lengkap dengan segala macam keindahannya, saya menyambutnya dengan tarawih,..dengan memperbanyak ibadah,dengan penuh sukacita……kemudian hari demi hari berlalu, sampailah saya pada hari hari yang mulai menyakitkan, secara fisik saya mulai melemah,secara iman pun begitu, rasa malas mulai menyeruak, dan kalau saya tidak menguatkan diri, saya pasti akan mundur teratur … walaupun masih ingin sekali kembali kepada fitrah di akhir ramadhan yang indah ini..tidak hanya saya, jamaah masjid yang biasa menemani saya tarawih pun perlahan tapi pasti mulai menghilang,..rasa malas kian bertambah, karena di akhir ramadhan, alam ternyata sangat labil, panas terik di siang hari, dan hujan lebat di malam hari, berdiam diri di dalam rumah tentu akan terasa lebih nyaman dibanding pergi keluar menembus angin amalm yang dingin. Namun ketika saya kuat dengan segala macam cobaan yang menerpa di hari hari terakhir ramadhan ini, insyaAllah saya akan merasakan kenikmatan yang tiada terkira ketika saya sampai di penghujung ramadhan nanti. Ketika takbir iedul fitri berkumandang, ketika saya kembali ke fitrah, ketika ibadah Ramadhan saya bisa saya laksanakan dengan baik, ketika tingkat keimanan saya bertambah, ketika saya semakin dekat dengan Allah, subhanallah… sungguh nikmatnya tak tergantikan..

Dear diary..
Namun apa yang terjadi ketika saya menyerah membuka durian ketika saya berhadapan dengan durinya?apa yang saya dapatkan ketika saya tidak mampu bertahan dan tidak mau terus berusaha membukanya dengan segala cara? pastilah yang terjadi adalah, saya tidak akan merasakan kenikmatan rasa durian yang lezat itu.
Adalah sama, ketika saya tidak mampu menguatkan iman di akhir ramadhan, saya akan terhanyut dengan arus deras yang membawa saya ke muara kemalasan,membuat saya berpikir pendek bahwa tidur itu lebih nikmat dibanding ibadah, dan di hari kemenangan nanti, hanya rasa sesal yang tersisa di ujung hati saya, karena saya tidak mampu merasakan kenikmatan yang begitu indah, saya kalah di hari kemenangan. sungguh sayang sekali.

Dear diary,
sungguh saya tak ingin berhenti di sini, saya tak ingin mundur di langkah ini, dan saya ingin terus mendaki,walau langkah kian terasa berat, walau syaitan terus mendekap erat, namun saya yakin segala ibadah yang saya niatkan kepada Allah ini, akan membawa saya kepada sebuah kenikmatan yang indah tiada terkira……semoga saya terus istiqomah menapaki titian ini…semoga langkah saya tidak goyah, dan semoga saya tidak terjatuh hingga sampai di hari kemenangan nanti. Ya Alah Ya Rahman..Ya Rahim… ijinkan saya menggapai ridhoMu, untuk menuju kembali ke hari yang suci.amien.

Iklan

10 thoughts on “Durian dan Ramadhan

  1. Durian dan Ramadhan 🙂 .. Indah suka berfilosofi yah 🙂

    Saya mencoba melihat dari sisi durian yah..Kalo Ramadhannya kan,udah banyak yang membahasnya (biarkan org2 yang lebih berkompeten yang membahasnya) *KH Zainuddin MZ,Prof Qurais Shihab,Ust Jefri Al-Buchory,Ust A’an Saefuddin,Ust Jafar Umar Thalib cs* mode on 🙂

    Terminologi durian dalam tulisan Indah,sama dengan “perumpamaan” ketika kita berenang mengarungi samudera (kehidupan/dalam paradigma Indah = ‘Ramadhan’) yang luas,serasa tidak bertepi.

    Kita hanya tahu bahwa kita sudah sangat jauh berenang,sudah sangat letih,putus asa menderah,terjangan arus dan gelombang terasa sangat kuat menghadang,menerpa kita,sementara kita tidak tahu kapan kita akan sampai di tepian(dalam hal ini kembali ke fitra suci di akhir Ramadhan,sesuai kemampuan kita masing2 tentunya) 🙂

    Dalam situasi sulit ini,ada motivasi yang bisa menguatkan semangat kita,yaitu kalau kita berhenti sekarang,kita tidak akan pernah sampai ditepian,artinya kita tidak akan pernah menjadi apa-apa (tdk menggapai fitra suci Ramadhan),padahal hampir pasti kalau kita sudah sangat dekat dengan tepian,kita hanya tidak mampu melihatnya lagi karena pandangan mata kita sudah sangat kelelahan.Mungkin kita hanya perlu mengayuh 2 atau 3 kali lagi,dan kita akan sampai di tepian/tujuan. Jadi jangan pernah menyerah.

    Semogah Indah tetap istiqamah dan bisa menggapai Fitra suci,di akhir Ramadhan nanti..amien

  2. Likes this… *Jempol!

    Mari, di sisa ramadhan kali ini kita berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik di hadapan Allah SWT.

    Semoga kita menjadi kekasih Allah yang setia, yang istiqomah! tak hanya ramadhan saja kita dekat dengan-Nya, tapi di bulan-bulan selanjutnya kita harus lebih mendekatkan diri.

    *absen komen* ^___^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s