Menembus awan kota jakarta

Laju kereta begitu tenang..membawa saya terhanyut dalam perjalanan indah menuju kota Jakarta… stasiun senen menyambut saya dengan hangat.. masih dengan teriakan teriakan penjaja makanan, yang diselingi tawaran tawaran tukang ojek dan supir bajaj. Saya hanya tersenyum tanpa mengindahkan tawaran mereka, semenjak saya pernah tinggal di jakarta sepanjang september sampai januari lalu, saya sudah menanamkan kecintaan pada busway dan menjadikannya satu satunya alat transportasi kepercayaan saya untuk mengitari kota besar itu. Dan hingga kini, ketika saya berkesemoatahn untuk mengunjungi kota ini lag saya tetap setia pada busway. Saya berjalan cukup jauh dan menemui antrean panjang sebelum akhirnya saya bisa bernafas lega sambil menggendong tas ransel saya di dalam busway.

Jakarta masih tetap indah dalam pandangan saya, saya yang notabene seorang gadis desa, selalu saja berdecak ketika melintasi gedung gedung pencakar langit yang seolah menembus awan kota jakarta, gedung gedung yang berlomba lomba untuk menghancurkan langit yang kusam penuh asap itu. Jalan yang lebarnya berkali kali lipat dibanding dengan jalan di kota kelahiran saya pun tak mampu menampung semua kendaraan yang ada, gendang telinga saya hampir pecah ketika masing masing dari mereka menyerukan suara klakson sekeras mungkin, dan berusaha meneriakan protes mereka atas kemacetan yang melelahkan sore itu. Peluh membanjiri seorang penjual air mineral yang tetap dengan gigih menawarkan jualannya dari satu jendela mobil ke jendela yang lain…ah…betapa bersyukurnya saya tidak harus bekerja sedemikian kerasnya untuk mencukupi kehidupan saya sehari hari.

Saya berhenti di halte Bundaran Hotel Indonesia, dan mendapati langit di luar sana menggelap dilengkapi dengan tangis langit yang tercurah menjadi hujan. Semua rasagerah dan penat hilang sejenak, berganti dengan angin sejuk dan bau tanah bercampur hujan yang menentramkan hati saya…. saya melangkahkan kaki menaiki lintasan menuju jembatan penyebrangan, dan ketika usai melintasi jembatan dan menuruninya, saya tidak terselamatkan lagi, hujan serta merta mengguyur seluruh badan saya. Dan seketika itu pula dingin menyusup ke tubuh mungil saya. Saya berlari mencariΒ  tempat berteduh..namun belum sempat saya menemukan tempat yang tepat untuk berteduh, seorang anak kecil, yang tingginya kira kira 120 cm menghampiri saya dan membawa sebuah payung besar untuk saya. Dialah “sang pangeran ojek payung”, dia yang menyelamatkan saya dari hujan deras yang menerpa saya sore itu. Dan saya segera mengulurkan tangan untuk membawakan payung besar itu, karena tubuhnya masih sangat kecil, dia terlihat sangat kesulitan membawa payung sebesar itu. Saya melanjutkan langkah saya dan anak kecil itu mengikuti saya. Saya merangkulnya untuk mendekat namun dia tetap saja melompat kesana kemari, bahkan dengan lihainya, dia menginjak setiap genangan air yang kami lewati. “aih.. dasar anak kecil….senang sekali bermain air..sama seperti saya dulu..” batin saya dalam hati.

Saya memasuki sebuah gang kecil di daerah kebon kacang, dan memandang sedih sungai sungai yang sangat kotor. Ugh.. tidak akan saya temukan sungai seperti ini di kota kelahiran saya. ah…tapi inilah jakarta… sungai kumuh menjadi salah satu cirinya. Kemudian ada juga yang tidak luput dari pandangan saya, seekor tikus yang melintas dengan sigap di jalan gang yang tengah saya lewati,saya hampir saya berteriak,karena ukuran tikus ituΒ  cukup besar, namun hal semacam ini seolah sudah menjadi hal yang biasa bagi penduduk sekitar pemukiman itu. Rumah rumah yang berdempetan satu sama lain, sampah yang dibuang begitu saja di sungai, pakaian pakaian yang di jemur di atap atap rumah, menjadi pemandangan sehari hari disini. Ironis sekali, hal seperti ini jarang nampak dari jalan besar, karena pemukiman kumuh ini tertutupi oleh gedung gedung megah yang menembus awan kota jakarta.

Sambil meneruskan langkah untuk menuju ke rumah kerabat saya di daerah tersebut, saya menggandeng anak kecil tadi agar tidak berlari larian terlalu jauh dari saya.. ” namanya siapa kamu?? “… “yusup”.. dia menjawab… ” kamu sekolah ga?” … “sekolah”…jawabnya.. “kelas berapa??” “dua”… ah.. selalu saja jawaban singkat yang saya terima dari anak kecil ini, padahal saya paling gemas kalau ada anak kecil yang mau berceeloteh banyak kepada saya.. sampai akhirnya saya bertanya lagi.. ” lhoh?? ini kok malah ujan ujanan?malah ga sekolah??nanti dimarahin ibu loh…” dan dia akhirnya mau menjawab pertanyaan saya yang terakhir ini dengan agak panjang “ini juga ujan ujanan buat jadi ojek payung nanti duitnya dikasih mamak, sekali ngojek dapet cuman dua rebo, seharian ngojek paling dapet 15 rebo, ntar dikasih mamak, biar bisa dikumpulin buat bayar sekolah,jadi mamak ga mungkin marah”.

“Oh yah??” saya agak terperangah ketika mendengar jawaban indah itu terlontar dari mulut seorang anak kelas dua SD, ia rela membolos sekolah untuk mencari uang ,membantu ibunya membiayai sekolahnya sendiri. Subhanallah, anak hebat.. ..”ehm..harusnya… daripada untuk berlomba lomba membuat gedung gedung yang menembus awan kota jakarta.. bukankah akan lebih bermanfaat ketika digunakan untuk menghidupi rakyat kecil yang membutuhkan seperti yusupn dan keluarganya ini??” batin saya mulaibergejolak dan protes terhadap kondisi ini. Miris sekali bukan? mereka menghambur hamburkan trilyunan rupiah untuk gedung gedung itu, tapi mereka melupakan yusup kecil yang hebat ini.

Akhirnya sampai juga saya di teras rumah kerabat saya, dan yusup berkata ” udah kak,,, 2 rebo aja”… saya tersenyum… ^_^ dan..hehehe… tidaklah sampai hati saya mengulurkan tangan saya dan hanya memberi rua ribu rupiah untuk anak sehebat yusup.. akhirnya.. saya keluarkan dua lembar uang… dan saya katakan kepadanya..” ini ada dua lembar sup.. yang satu buat mamak… yang satu buat kamu aja,…yah? ditabung.. yah sup yah??” ….yusup tersenyum hingga deretan giginya yang tidak rata terlihat semua… “wah..banyak banget kak… makasih ya kak… ” ujarnya sambil berlari lari lagi dalam hujan kala itu..


Jadilah anak yang hebat yusup kecilku… bersekolahlah yang rajin dan bercita citalah hingga cita citamu melebihi tinggi gedung gedung itu… dan biarkan cita citamu yang menembus awan kota Jakarta.. .. hingga kau besar nanti…

Iklan

49 thoughts on “Menembus awan kota jakarta

  1. ehm…
    tentang bocah laki2 kecil ceritanya kali ini
    setiap ada cerita seperti ini selalu saja keinget adik kembarku di rumah
    selalu saja buat sedih hatiku, selalu membuat kangen ma mereka.. 😦

  2. memandang jakarta dari sudut pandang yg berbeda…
    jadi ingat cerita anak kecil kemarin saat makan di nasi goreng kambing kebon sirih. dia sedikit memelas menawarkan dagangannya ,beberapa puzzle untuk anak kecil ,dengan dalih buat biaya sekolah. karena teman saya maunya cuma ngasih ribuan, untuk sedekah maka uangnya ditolak,katanya dia maunya dibeli barang dagangannya,bukan dikasih uang.

    saya jadi bingung sekaligus salut,anak ini masih mau berusaha mentalnya,bukan sekedar minta2. tapi karena teman saya sedikit memaksa,akhirnya si anak ini dengan ragu2 menerima juga pemberian tersebut.

    kekayaan dan jabatan seseorang bukanlah sebuah kemuliaan di sisi Allah. yang paling mulia di sisi Allah adalah yg paling bertakwa kepadaNYA.

    semoga kita selalu jadi lilin2 penerang bagi mereka2 disekeliling kita,untuk maju menapaki hidup yg lebih baik lagi πŸ™‚

    • btw di blogrollnya kok blognya asop dua kali ditulis ya?? apakah segitu ngefansnya atau ada hubungan khusus dengan asop hehehehe πŸ˜€ *pertanyaan menuduh yg gak penting πŸ˜‰

      • zzzzz…..masa ia sih??? *malah ga nyadar.. ehm..kayaknya karena blognya mas asop dulu sempet hijrah apa yah? πŸ˜†
        ehm…
        mas didooott.. ini komennya kaga nyambung samaa sekali sama curhatan indah di atas..uh… :p

  3. Hmm… ternyata masa kcil kita jauh lebih beruntung… kapan2 saya ceritakan tetang anjal2 padang yah… πŸ™‚ di setiap sudut indonesia sudah…

  4. “…selalu saja berdecak ketika melintasi gedung gedung pencakar langit yang seolah menembus awan kota jakarta, gedung gedung yang berlomba lomba untuk menghancurkan langit yang kusam penuh asap itu..”

    Sama.. saya juga dulu kayak gtu.. gak brenti2 liat gdung2 pencakar langit yang ada di kiri kanan jalan.. hehehe..

    Indah.. ayo kopdar.. mumpung di Jakarta ^^

  5. Ping-balik: Menjawab Pertanyaan « β€œsometimes words are much sharper than swords”

  6. Saya malah gak betah tinggal di Jakarta, pengennya ke tempat yang lebih sejuk.. yang masih banyak pemandangan alamnya kayak sawah, sungai yg airnya jernih dan bersih. Sumpek sama Jakarta yang panas dan setiap hari selalu macet.. Tapi berhubung masih nyari sebakul nasi di Jakarta, ya akhirnya dijalani aja.. πŸ˜€

  7. Ehm, Jakarta ya,
    (Sekadar bercerita)

    Diantara Kakak-kakak saya, sayalah satu-satunya yang Allah berikan kesempatan untuk mencicipi bersekolah di luar kampung halaman. Kakak-kakak saya menimba ilmu sampai perguruan tinggi di kota Bandung, sedangkan saya Allah takdirkan untuk berkuliah di luar Bandung, yakni di daerah Bintaro (sekitar Jakarta). Rasanya bersekolah di negeri orang sangat berbeda jika dibanding di kampung halaman. Jauh lebih nyaman di daerah sendiri. Rindu yang berbeda kadarnya karna terkadang tidak pulang sampai berbulan-bulan. Dan rasa cemas yang melanda karna khawatir kiriman uang bulan ini tidak cukup untuk ‘peperangan’ selama satu bulan kedepan. Dilema memang, tapi itulah kehidupan kan ya ?? Tidak semua yang kita ingini Allah restui. Tidak semua yang menurut kita baik, baik pula menurut-Nya. Begitu pula sebaliknya. Inginnya sih kuliah di kampung halaman, tetapi ternyata Allah berkehendak agar saya menimba ‘jauh’ diluar kampung halaman.. Tetapi kuliah di negeri orang tidak buruk-buruk amat koq ternyata. Banyak hikmah yang bisa saya ambil. Dari mulai teman yang berbeda dari seluruh Indonesia, menambah kekayaan ragam budaya. Dari mulai keadaan sosial yang luar biasa kontras, membuat saya paham bahwa hidup itu harus saling berbagi, karna tidak semua orang mendapatkan rizki yang sama, duh…, ya hidup itu seperti ‘menembus awan’. Menembus sesuatu yang bisa dilihat tetapi sulit untuk kita sentuh. Seperti awan, jauhnya terlihat tetapi apa mampu kita menggapainya ?? Itu semua tergantung dari niatan serta usaha….. ”
    (Hhe, maaf jadi bicara tidak jelas..:-))

    (Koment buat tulisan)
    Tulisan-tulisan yang hebat menurut saya bukan hanya tulisan yang bisa membuat seseorang yang membacanya hanyut ke dalam dunia tulisan itu, seolah merasakannya, tetapi tulisan yang bisa membuat kita hidup untuk menebarkan kebaikkan, minimal membuat kita yakin bahwa berbuat baik itu bukan hanya sebuah khayalan… Ya, dan saya menemukan ‘itu’ dalam tulisan Teh Indah dan Teh Rindu.. Semoga tetap istiqomah..

    Nb : maaf komentnya tidak jelas, hhe, bingung soalnya πŸ™‚

    • heem.. tergantung orangnya sih mas. kalo orangnya pinter mengambil hikmah seperti mas ini pastilah smua akan terasa indah… πŸ™‚

      semoga indah dan mba ade tetap istqomah..amien…

      nb: tapi komennya rada lebai ih.. indah kan ga segitunya… kalo mba rindu mah emang keren.. heehe.. πŸ™‚

      • hhe, ga juga koq, justru saya sedang berusaha seperti itu, biar semua terasa indah (atau INDAH ya, hhi ;))

        Ya, mungkin terdengar lebai, hha, maaf πŸ™‚

        nb : Tampaknya Teh Indah lebih ‘dewasa’ dibanding saya ya ?? hhe πŸ™‚

      • hhehe.. iyah.. lebai.. terlalu memuji..ntar kalo indahnya terbang trus kecantol di pohon kan repot.. :p
        hihihihi

        lbih dewasa??aduh2… darimana bisa menyimpulkan seperti itu mas??ckckck..

      • hhe, tak apa, kalo kecantol di pohon kan enak, adem, sekalian ngambil buah yang ada di pohon, hhi ^^v

        Maksud saya lebih ‘dewasa’ (pake tanda kutip lho Teh ;)), maksudnya usia Teteh memang terbilang muda, tapi rasanya saya lebih muda, dengan kata lain…… ckckckck (Astaghfirullah, kenapa saya jadi SARAU, Suku, Agama, Ras, Adat, dan Umur, hhahaha :))
        Piss ^^v

    • oh yah?? kaya lagu alif kecil yah?? masa iyah??hihihi…

      amien…amien…amien..
      alhamdulillah.. indah seneng deh… melalui tulisan ini.. jadi banyak yg ikut ngedoain yusup (pake “p” bukan “f” πŸ˜† )

  8. Ping-balik: Saya malu sama Ana « .: just a littleangel's diary :.

  9. Ping-balik: Surakarta, Saya pamit…. « .: just a littleangel's diary :.

  10. Ping-balik: Saya malu sama Ana « kang Fu@d Nur' Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s